Fenomena SCBD Padati Sudirman, Sosiolog: Jakarta Representasi Kota Multikultural

Fenomena SCBD Padati Sudirman, Sosiolog: Jakarta Representasi Kota Multikultural
Layaknya kota-kota elite di dunia, keberagaman fesyen, bahasa, hingga tempat-tempat berekspresi sudah sepatutnya ada di Jakarta sebagai ibu kota dari negara multikultural. - Foto: Faustinus Nua

OnokAe.com — Fenomena remaja dari berbagai daerah pinggiran ibu kota Jakarta yang memadati kawasan Sudirman menjadi viral di media sosial. Istilah SCBD (Sudirman, Citayem, Bojong Gede, Depok) kini menjadi tren baru lantaran para remaja ini datang dengan berbagai keunikannya seperti gaya pakaian, bahasa, dan lainnya.

Pengamat sosial Universitas Indonesia, Rissalwan Habdy Lubis, menilai keunikan tersebut sebagai hal positif untuk membawa Jakarta sebagai kota multikultural. Layaknya kota-kota elite di dunia, keberagaman fesyen, bahasa, hingga tempat-tempat berekspresi sudah sepatutnya ada di Jakarta sebagai ibu kota dari negara multikultural.

“Saya membayangkan Jakarta itu menjadi kota yang multikultural, kita bisa bertemu dengan berbagai jenis orang, berbagai jenis pakaian, bahasa, dan sebagainya. Keunikan-keunikan itu membuat Jakarta menjadi kaya. Katakanlah kalau ibu kota pindah itu kan ibu kota negaranya, tapi sebagai ibu kota budaya, Jakarta harus tetap bertahan,” ujarnya dilansir Media Indonesia, Sabtu, 16 Juli 2022.

BACA JUGA  Jalur Sepeda Warisan Anies Berubah Jadi Lahan Parkir, Dishub DKI Tak Beri Sanksi

Melihat Fenomena Remaja ‘SCBD’ di Jalan Sudirman

Rissalwan mengajak masyarakat melihat fenomena SCBD itu dari sisi positif. Jakarta yang terus berbeda memang sudah seharusnya memiliki ruang-ruang publik untuk berekspresi, khususnya bagi generasi muda.
Fenomena SCBD tidak sebatas anak-anak remaja datang dan menikmati suasan ibu kota. Lebih jauh lagi, ini mendorong pemerintah untuk memaksimalkan potensi dari generasi muda, misalnya, diadakan pentas kecil-kecilan.

“Ini saya kira bagusnya dibuat ada aktivitas-aktivitas penampilan budaya atau kompetisi, pentas-pentas kecil,” kata dia.

Rissalwan menjelaskan bahwa ada tiga faktor terkait fenomena ini, yakni faktor penarik, pendorong, dan mobilitas. Faktor penariknya adalah Jakarta sedang berbenah dan mulai banyak public space yang menarik banyak orang. Termasuk anak-anak dari pinggiran Jakarta untuk melihat atau merasakan kenyamanan ibu kota.

Kemudian faktor pendorong. Kawasan Sudirman yang terkenal sebagai ikon perkantoran bisa jadi merupakan motivasi bagi anak-anak muda untuk menjadi bagian dari hal tersebut. “Mungkin masa depannya ingin kerja di perkantoran atau menjadi warga ibu kota,” ungkap dia.

BACA JUGA  Mobil Terjatuh Dari Jalan Layang Tol Dalam Kota Setelah Diseruduk Dari Belakang

Permasalahannya, ada perbedaan budaya yang membuat fenomena SCBD itu mencuri perhatian. “Boleh di bilang pakaian, sepatu, dan gaya bahasa ini kan berbeda dengan orang perkotaan. Jadi semacam ada gap gitu, mereka datang ke kota, mereka berkumpul ini, (mungkin) bagi orang kota terlihat lucu atau cenderung agak norak,” papar Rissalwan.

Sementara faktor mobilitas, Rissalwan mengapresiasi perhatian pemerintah terhadap akses transportasi yang makin mudah dan murah. Namun, menurutnya faktor membuat booming atau viral itu karena sedang libur sekolah.

Ke depan, setelah masa liburan sekolah kawasan Sudirman mungkin tidak seramai saat ini. Tapi pada momen weekend atau liburan, kemungkinan masih terus bertahan dan bisa semakin ramai lagi.

BACA JUGA  Kasus Tambang Ilegal, Polri Tetapkan Ismail Bolong Tersangka

Lebih lanjut, terkait remaja dengan gaya yang unik, menurut Rissalwan wajar sebagai karakter sosial remaja. Dalam analisis kelompok kecil, usia remaja jika berkelompok maka akan semakin percaya diri.

“Gampangnya begini, satu remaja laki-laki itu tidak akan berani menggoda remaja perempuan, tapi kalau dia berdua, bertiga, berempat pasti akan semakin berani,” kata dia.

Para remaja punya social bounding atau ikatan sosial tinggi. Ketika mereka berpindah dari pinggiran ke Jakarta itu sama sekali tidak merasa takut atau terganggu.

Hal positif dari fenomena ini tentunya akan membuka wawasan para remaja. Karena mobilitas merupakan salah satu modal untuk meningkatkan human capital. Anak-anak muda yang sudah pernah keluar negeri punya modal manusia yang lebih bagus dibanding dengan mereka belum pernah ke luar negeri. Sama halnya dengan anak-anak kampung di pinggiran Jakarta yang tidak pernah melihat gedung tinggi tidak melihat realita langsung.

BACA JUGA  Diduga Jadi Penyebab Meninggalnya Keluarga Kalideres, 4 Fakta Voluntarily Stopping Eating and Drinking

“Itu tentu hal positifnya modal manusia meningkatkan kemampuan dia untuk berinteraksi dengan orang,” tuturnya.

Sementara hal negatifnya bisa menimbulkan frustrasi karena mereka akhirnya sampai pada realita ingin menjangkau atau menjadi bagian dari suatu komunitas, tapi mungkin punya keterbatasan-keterbatasan.

“Jadi kalau tadi saya bilang ada ikatan sosial pada masa remaja itu semakin dewasa dia akan memudar, menghilang . Individualis makin besar dan pada akhirnya dia akan mengandalkan dirinya sendiri. Sementara mungkin tidak punya modal, pendidikannya terbatas,” kata Rissalwan.

 


Bikin artikel seru kamu yang menarik dan bermanfaat! Let’s join OnokAe Ada Aja dengan klik di sini.




Bagikan Artikel ini


Terhubung dengan kami

     



Iklan Banner Massal di 101 Situs Iklan Baris Aktif